Minggu Biasa ke-8 (Minggu, 3 Maret 2019)
BcE. Sir 27: 4-7; 1Kor. 15: 54-58; Luk. 6: 39-45
Salah satu panggilan dan perutusan orang yang telah menerima sakramen baptis adalah ikut serta dalam tugas perutusan Yesus sebagai gembala. Artinya, selaku orang beriman yang telah dibaptis, dalam pekerjaan dan profesi masing-masing, kita mengembang tugas sebagai gembala: orang tua menggembalakan anak-anaknya, guru menggembalakan para muridnya, pengurus lingkungan menggembalakan warganya, pimpinan perusahaan menggembalakan para karyawannya, dsb.
Tugas seorang gembala antara lain membimbing, memimpin, menuntun di jalan yang benar seturut ajaran Yesus Kristus supaya sampai pada tujuan, yaitu mengalami perjumpaan dan persatuan dengan Allah Bapa. Untuk dapat menjalankan panggilan dan perutusan sebagai gembala, kita harus memiliki sikap-sikap hidup baik yang pantas untuk diteladani oleh mereka yang digembalakan.
Tanpa sikap hidup yang baik, itu sama dengan orang buta menuntun orang buta, keduanya akan jatuh ke dalam lobang (bdk. Luk 6: 39). Bercermin pada Injil hari ini, selaku gembala kita diajak untuk bersikap kritis terhadap diri kita sendiri, yaitu mampu melihat dan memperbaiki kekurangan yang ada dalam diri kita, supaya kita dapat membukakan jalan kebenaran pada orang lain (bdk. Luk. 6: 42).
Selain itu kita diajak untuk menjaga kesucian dan kemurnian hati. Sebab, “orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” (Luk. 6: 45).
Untuk dapat melaksanakan panggilan dan perutusan ini, Santo Paulus memberi nasihat kepada kita, “Saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. (1Kor. 15: 58). Semoga kita sungguh menjadi gembala yang baik, bagi setiap orang yang membutuhkan kehadiran dan perhatian kita.