Menuju ke Ugaharian

Alkisah, seekor tikus tinggal di hutan dekat sebuah desa. Suatu hari, tikus itu berkeliaran ke sana ke mari. Tiba-tiba, ia melihat sebuah keranjang penuh jagung. Ia ingin memakan semuanya. Lalu ia membuat lubang kecil di keranjang itu. Ia masuk melalui lubang. Ia terkejut melihat begitu banyak jagung di sana. Ia makan banyak jagung dan merasa kenyang. Ia sangat senang setelah makan banyak jagung. Sekarang, ia ingin keluar. Ia mencoba untuk keluar melalui lubang kecil di keranjang. Tapi ia tidak bisa karena perutnya terlalu kenyang dan menjadi gemuk. Ia mencoba dan mencoba, tetapi itu tidak ada gunanya. Seekor kelinci sedang lewat di tempat yang sama. Ia mendengar teriakan tikus dan bertanya, “Mengapa kamu menangis temanku?”. Tikus menjawab, “Saya membuat lubang kecil dan masuk ke dalam keranjang. Tapi sekarang, saya tidak mampu keluar melalui lubang itu lagi.”. Kata kelinci, “Itu karena kamu makan terlalu banyak. Tunggulah sampai perutmu menyusut.” Keesokan paginya, perut tikus itu telah menyusut. Tapi tikus itu ingin makan jagung lagi. Jadi ia makan dan makan terus. Sekali lagi, perutnya kekenyangan. Ia berpikir, “Oh! Kini saya baru bisa keluar besok pagi.”. Saat itu, lewatlah kucing. Ia mencium bau tikus dalam keranjang. Ia melompat dan makan tikus gemuk itu.

Cerita fabel diatas menggambarkan ironi sebuah keserakahan, keserakahan selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki. Istilah “serakah” yang biasa juga diberi sinonim “loba, tamak,” adalah orang yang tidak merasa puas dengan apa yang sudah diperoleh. Bisa dikatakan dalam narasi yang lebih luas, seorang yang serakah adalah pribadi yang rakus, yang sangat cinta pada hal-hal duniawi tanpa mau tahu apakah itu bertentangan atau tidak dengan hukum agama. Cinta dunia seperti itu tidak lagi mempersoalkan hukum surgawi, yang penting ia ingin lebih banyak lagi dari apa yang dimiliki sekarang, tanpa mau tahu bagaimana cara mendapatkannya.

Sejenak kita tinggalkan pemaknaan dan penafsiran diatas, kita akan lebih merenungkan implikasi dan pesan praktisnya untuk kita. Kebanyakan masyarakat modern dihinggapi pola hidup konsumtif (latin-consumere: menghabiskan) yang secara spontan memberi kesan serakah. Sikap serakah itu juga mengembang dalam cara kita memenuhi apa yang kita konsumsi atau yang kita nikmati. Kita lebih menyukai makanan-makanan yang cepat saji (instan dan junk-food), yang jelas-jelas diindikasikan kurang atau bahkan benar-benar tidak sehat. Jarang sekali masyarakat kita saat ini yang mau memproses makanan yang akan dikonsumsi dengan pola-pola tradisional, yang lebih banyak menyajikan makanan sehat dan bergizi.

Akibat dari pola konsumtif yang cenderung serakah (arti luas: sebanyak-banyaknya, menyukai budaya instan dan pengaturan waktu makan yang sembarang) adalah semakin banyaknya warga masyarakat yang terserang berbagai penyakit-penyakit mematikan seperti obesitas (kegemukan berlebih), serangan jantung, stroke, diabetes dll. Dan di masa kini penyakit-penyakit tersebut sudah merambah ke orang muda, remaja hingga anak-anak.

Sabda Tuhan Yesus,”Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya” (Luk 11:3) mengarahkan kita untuk mengembangkan gaya hidup yang dipenuhi sikap “ugahari”: secukupnya atau sederhana. Kita mengonsumsi dan memenuhi keperluan kita sehari-hari dengan mengukur kemampuan kita. Dalam hal makan, sikap ugahari tercermin dalam cara makan sesuai akan kebutuhan akan kesehatan dan ukuran wajar yang diperlukan oleh tubuh kita.

Maka penting rasanya untuk mengubah pola hidup serakah menjadi pola hidup yang ugahari, sehingga keluarga-keluarga kita menjadi lebih sehat. Sebab di bagian Injil lain kita menjumpai sabda Tuhan Yesus yang mengajak kita untuk tidak kuatir atas hidup ini: “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan dan minum…” (Matius 6 : 25 dst). Jadi kenapa kita harus serakah?

Baptisan:
Baptisan balita diadakan per 2 minggu sekali, baptisan dewasa per 1 tahun sekali.

Formulir dapat diunduh melalui tautan berikut:


Pernikahan:

Sakramen pernikahan dapat diadakan pada hari Sabtu atau Minggu. Hubungi sekretariat di tautan berikut untuk informasi lebih lanjut.

Perminyakan:
Sakramen perminyakan sesuai dengan janji. Hubungi sekretariat di tautan berikut untuk informasi lebih lanjut.

Data Wilayah

Baru pindah rumah dan tidak tahu masuk ke wilayah mana dan harus menghubungi siapa?

Jangan panik! Mang Umar ada solusinya! Silahkan kamu cek link ini untuk mencari data wilayah di paroki St. Martinus

Jadwal Pelayanan Sekretariat

Senin, Rabu, Kamis, Jumat: 07.30 – 12.00 & 16.40 – 19.00
Selasa, Sabtu: 07.30 – 12.00
Hari Minggu dan hari libur tutup

Alamat Sekretariat
Komplek Kopo Permai Blok H No. 4
Telp. 022-540-4263
Whatsapp +62 822-6055-3066

Jadwal Misa

Misa Harian
Senin – Sabtu di gereja pukul 06.00. Misa di Pastoran sementara waktu ditiadakan.

Minggu:
• 06.00
• 08.00
• 10.00

Sabtu:
• 18.00

COPYRIGHT © 2015 BERGEMA BY TIM KOMSOS ST. MARTINUS.