Pada suatu ketika terjadilah sebuah perjumpaan yang tidak disengaja antara seorang imam dengan umat yang kebetulan sebuah keluarga lengkap di halaman gereja seusai Perayaan Ekaristi hari Minggu di tempat itu. Keluarga ini masih medior dengan anak-anak yang pertama duduk di bangku SMP, sedangkan yang kedua dan ketiga masih duduk di bangku SD. Dua anak pertama laki-laki dan yang terakhir perempuan, sedangkan Romonya juga masih medior yang sedang semangat-semangatnya menjalani panggilan hidupnya sebagai imam.

Dalam perjumpaan dan perbincangan itu dengan semangat sang Imam menyampaikan: “Nah ini dia calon-calon imam dan suster yang akan datang!” dan spontan sang Ibu dari anak-anak itu memberikan jawaban: “Jangan Romo! Kasihan nantinya.” Tentu saja Romonya terperanjat mendengar jawaban demikian, lalu ia bertanya: “Lho memangnya kenapa? Bukankah bapak-ibu lihat betapa kami para romo hidup bahagia?” Lalu mulailah ia menjelaskan bagaimana kehidupan para romo sebagaimana dialaminya …

Adakah keluarga ini tertarik dengan cerita Romonya? Ternyata tidak sama sekali. Bayangan mereka tetap, menjadi imam dan lain-lain itu adalah kehidupan yang justru menimbulkan bayangan dan gambaran “kasihan” bagi anak-anaknya, sama sekali bukan kegembiraan atau sukacita. Kesaksian hidup yang mereka tangkap dari para imam, biarawan dan biarawati baik secara langsung maupun tidak langsung mendatangkan kesan yang demikian dan itu tidak mungkin mendadak berubah. Yang namanya kesan seperti halnya segala hal di dunia ini bisa benar bisa juga keliru atau tidak tepat.

Di sisi lain sesungguhnya semuanya berasal dari keluarga sebagai sumber dan asal kehidupan semua orang. Hampir segalanya dalam kehidupan ini bisa dikembalikan ke hulunya yaitu keluarga atau muaranya juga ke keluarga. Oleh karena itu kesan seperti diceritakan di atas pastilah sangat mempengaruhi jalan hidup panggilan yang ditempuh anak-anak mereka, meskipun bisa saja terjadi bahwa salah satu anaknya tertantang untuk membuktikan bahwa kesan itu tidak benar. Kalau Tuhan berkenan, kata orang ada saja jalan yang tersedia…

Mungkin yang paling jelas dan terang benderang adalah bahwa segala sesuatunya harus diuji dalam berbagai macam bentuk pembelajaran dan pelatihan serta pengalaman dan berjalannya waktu, karena yang permanen di dunia ini hanyalah perubahan. Segala sesuatunya bisa berubah, juga termasuk kesan “kasihan” di atas. Bahkan kesan “ketertarikan” pun belum tentu mendorong seseorang untuk mengambil pilihan definitif terhadap jalan hidup tertentu. Apalagi kalau ketertarikan itu sifatnya lahiriah yang seringkali sangat cepat memudar karena perkembangan jaman seperti sekarang ini.

Bahkan yang sangat tertarikpun banyak yang berguguran di tengah jalan karena tidak tahan menghadapi berbagai tantangan dan cobaan dan barangkali memang benar memang kesan kasihan itu ada benarnya. Catatan terakhir adalah kata Tuhan: “Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya.”

Baptisan:
Baptisan balita diadakan per 2 minggu sekali, baptisan dewasa per 1 tahun sekali.

Formulir dapat diunduh melalui tautan berikut:


Pernikahan:

Sakramen pernikahan dapat diadakan pada hari Sabtu atau Minggu. Hubungi sekretariat di tautan berikut untuk informasi lebih lanjut.

Perminyakan:
Sakramen perminyakan sesuai dengan janji. Hubungi sekretariat di tautan berikut untuk informasi lebih lanjut.

Data Wilayah

Baru pindah rumah dan tidak tahu masuk ke wilayah mana dan harus menghubungi siapa?

Jangan panik! Mang Umar ada solusinya! Silahkan kamu cek link ini untuk mencari data wilayah di paroki St. Martinus

Jadwal Pelayanan Sekretariat

Senin, Rabu, Kamis, Jumat: 07.30 – 12.00 & 16.40 – 19.00
Selasa, Sabtu: 07.30 – 12.00
Hari Minggu dan hari libur tutup

Alamat Sekretariat
Komplek Kopo Permai Blok H No. 4
Telp. 022-540-4263
Whatsapp +62 822-6055-3066

Jadwal Misa

Misa Harian
Senin – Sabtu di gereja pukul 06.00. Misa di Pastoran sementara waktu ditiadakan.

Minggu:
• 06.00
• 08.00
• 10.00

Sabtu:
• 18.00

COPYRIGHT © 2015 BERGEMA BY TIM KOMSOS ST. MARTINUS.